Monday, March 09, 2009

Serak

Sepertinya baru sebentar. Tapi serasa sudah lama. Terlalu lama. Seperti ada yang menggantung di dada. Sesak. Pertanda kejenuhankah. Atau keinginan tak terjamah. Ataukah hanya lelah.

Dimana kata hanya tergantung di lidah. Pikiran tertambat di pusar kepala. Hati terserak. Lalu kaki memimpin langkah. Karena cuma kaki yang tahu kemana pergi. Keharusan menuju. Menyelesaikan tugas, rutinitas.

Aku rindu hatiku. Yang hangat. Yang bersenandung kecil. Langkah ringan. Sapaan ramah. Kemana hatiku. Yang mampir menghirup angin. Tidak bergegas soal sepele dunia kecil. Serapah tak penting.

Mungkin ia terserak. Sepanjang perjalanan waktu. Yang sepertinya baru sebentar. Tapi terasa lama. Kalau kupunguti serakannya, mungkin masih bisa jadi satu. Pelan-pelan. Entah kapan.

Saturday, January 10, 2009

Instan

Weekend yang lalu diputar film Sleepless in Seattle di TV. Klasik. Manis. Meg Ryan masih belum dibotox (oops). Temanya biasa: jatuh cinta, dengan pertanda. Pertanyaannya, mengapa film ini mendadak diputar di TV non-kabel, padahal bukan musim valentine? Saya baru sadar, bahwa acara reality TV Bachelor sesi baru yang diputar keesokan harinya menampilkan seorang duda beranak satu yang berasal dari Seattle. Sounds familiar? Yep, Sleepless... diputar sebagai bagian marketing TV show The Bachelor. Satu paket, sama seperti kalau film sequel baru diputar di bioskop, pasti di TV diputar sequel sebelumnya.

Kembali ke Seattle... Yang membawa ke renungan selanjutnya: betapa berbedanya dua TV show itu. Sam dan Annie jatuh cinta dengan mereka-reka pertanda, kebetulan, ketidaksengajaan, curi-curi pandang, bahkan direntang jarak 1000 mile antara Baltimore dan Seattle. Mereka baru benar-benar bertemu muka dua bulan kemudian, di puncak Empire State Building New York. Sambil malu-malu bergandengan tangan.

Sementara bachelor-yang-entah-siapa-namanya-ini tinggal di satu mansion indah selama sebulan, dan untuknya seorang didatangkan 2 lusin wanita dari seluruh US, untuk kemudian diseleksi. Dalam satu bulan, mencari istri. Entah kemudian jadi menikah atau tidak, di akhir episode sang bujangan akan berlutut di satu kaki. Terjadilah kompetisi yang kemudian tidak jelas antara mencari cinta atau memenangkan suatu permainan. Target hari pertama para wanita itu paling sedikit bergandengan tangan, seminggu kemudian first base, lalu selanjutnya... blip blip.

Satu kata muncul di benak saya: Instan. Seperti banyak instan lainnya di US. Dari makanan, minuman, pelangsing tubuh, silikon, drive-thru, uang instan (alias kartu kredit), tanaman, realiti TV. Bahkan soal perasaan kalau bisa dibuat instan, seperti acara ini.

Mungkin acara the bachelor memang tinggi ratingnya, seingat saya sudah lama sekali diputar. Di lain pihak mungkin memang banyak bujangan US yang sulit mendapat pasangan hidup. Apapun alasannya, acara ini sudah jadi komoditi tersendiri. Selama masih ada pasar, produsen akan terus menjual. Dan akibat kultur instan ini, muncullah pangsa lain yang sejalan: kultur sintetik. Serba nggak asli karena ingin instan. Contohnya: makanan, minuman, pelangsing tubuh, silikon, drive-thru, uang instan (lewat kartu gesek bahkan acara deal or no deal), tanaman, reality-TV. Sounds familiar?

Yang serba instan itu seringkali diolah dari bahan sintetik. Daging burger sintetik sekarang sedang dikembangkan, iming-imingnya mengandung lemak omega3 yang tidak hanya menghilangkan resiko darah tinggi akibat daging sapi asli, tapi malah mencegah resiko penyakit tersebut. Ketimbang makan buah, sekarang ada minuman fiber yang bubuk instannya tinggal dituang ke air minum. Sintetik lainnya termasuk silikon penyumpal bagian tubuh yang dirasa kurang, kartu kredit (uang sintetik; saya tidak anti kartu kredit tapi sudah jadi saksi betapa menjerumuskannya benda kecil ini).

Termasuk perasaan sintetik... bagaimana kamu tahu perasaanmu yang otentik jika sekelilingmu mendikte apa yang harus kamu rasakan?

Di sisi koin yang lain, tidak sedikit teknologi instan di US yang saya sukai: mesin laundry, vacuum cleaner, dishwasher, dan tentu saja internet. Maklum di sini nggak ada pembantu, semua mesti dikerjain sendiri. Andai ada setrikaan instan, rasanya bakal sempurna hidup saya. Dan berbicara tentang romantika, I stiil believe the old school ways….

Tuesday, November 11, 2008

Sang Kursi


Dua hari lalu baru selesai baca bukunya Gunawan Moehamad: Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (Cyn, ingetin gue untuk balikin ya :)). Ada satu bagian yang masih mengiang di kepala saya sampai sekarang. Soal munculnya peradaban moderen yang dimulai dengan konsep individu di Eropa. Salah satunya ditandai dengan kursi. Termangulah saya.

Kursi yang sebelum abad pertengahan hanya jadi singgasana raja kemudian bisa dimiliki rakyat jelata. Rakyat yang sebelumnya terbiasa duduk berdampingan di bangku (bench) ingin merasakan duduk tanpa beradu pundak dengan orang lain. Ingin duduk sendiri. Lalu kursi menjadi komoditi pasar. Bukan lagi privilese kaum borjuis. Keindividuan sudah tak lagi jadi barang mewah.

Kalau kursi yang jadi singgasana raja dan bangsawan memang hasil karya seni yang rumit pada masanya, sekarang jadi terbalik. Kursi didesain menjadi barang seni supaya si empunya merasa elite, tak pasaran. Individualitasnya dimanjakan supaya berbeda dengan rakyat kebanyakan. Segelintir orang mencoba mengidentikkan diri dengan kursi bermerek desainer, berbahan tertentu, bergaya tertentu. Bukan sekedar kursi Ikea, tapi kursi Le corbusier, bahkan kursi Blobby yang milyaran dolar. Beberapa minggu lalu saat saya bersama beberapa rekan sekerja mengunjungi NeoconEast (semacam pameran produk interior & furniture), beberapa kali terdengar ungkapan bahkan jeritan kecil,” Ohhh... that chair is sooo me!” Dan mendekatlah si empunya stand,” Hey, isn’t he cute? He’s name is Billy.” Kursi pink itu adalah individu pria bernama Billy. Tentu saja pasarnya wanita. “Do you want to sit on Billy?”

Mentranslasikan individu, atau jati diri dalam bentuk barang. Suatu hal yang terasa sekali di Amerika, negara yang individu penduduknya -buat saya- sangat dimanjakan.

Kembali ke soal kursi. Tak banyak orang di Baltimore ini yang berpikir untuk komut berkendaraan umum, karena enggan berbagi kursi dalam bus dengan orang lain. Orang yang notabene dianggap ‘tidak mampu’ bermobil (yang mungkin jadi kondisi umum di belahan dunia manapun). Orang di sini malas berdampingan menunggu di bench halte bus, untuk kemudian bersebelahan dengan orang tak dikenal dalam sesaknya bus. Belakangan malah semakin sedikit halte bus dengan bench. Karena bench di halte identik dengan homeless. Tempat selonjornya tunawisma itu maka dihilangkan. Orang dibiarkan menunggu bus sambil berdiri . Memang berbeda dengan kota besar seperti Manhattan yang mayoritas penduduknya menggunakan subway atau bus. Tapi itu bukan mayoritas Amerika, yang lebih memilih membangun jalan layang dan tol karena individu bermobil yang semakin membludak. Mobil yang didesain dengan 5 kursi pun hanya dikendarai satu orang. Karena individu ingin dimanjakan dalam berkomut, pasar mobil nyaris nggak pernah surut. Hingga sekarang. Saat ekonomi Amerika mengalami keruntuhan.

Saya jadi berandai-andai, mengajak satu orang Amerika ke Bandung. Naik angkot Caheum-Ledeng yang tujuh-lima. Makan di warung tegal berbangku panjang. Tempat yang masih berbangku panjang di sini, selain taman (inipun seringkali orang menempati satu bangku panjang tanpa mau berbagi), gereja, kafetaria sekolah. Tempat umum, tempat ibadah, sekolah. Ketiga institusi ini seperti tempat orang melebur, menjadi less individual. Begitu keluar dari pintu kebersamaan, orang asik mejadi ‘aku’, 'me', instead of ‘we’.

Barang (termasuk mobil dan kursi) yang menjadi pengejawantahan individu Amerika tidak dibeli dengan uang, melainkan dengan kredit. Artinya, prediksi kemampuan konsumsi diatur dengan sistem kredit yang batasnya melebihi kemampuan sang individu untuk melunasinya. Individualitas bukan lagi realita, melainkan mimpi. Bukan esensi, tapi keinginan ‘menjadi’. Memanjakan individu berarti memanjakan mimpi. Dan mimpi Amerika (American dream) itu tidak gratis. Melainkan didalangi kapitalisme.

Sekedar informasi, hutang kartu kredit rata-rata penduduk Amerika adalah $10, 000. Tidak termasuk mortgage (KPR kalau di Indonesia). Living not within, but beyond their means. Individu yang terlalu dimanjakan, mimpi yang kebablasan

"Hidup mewah, hidup mewah....," begitu kata Sponge Bob. Sambil berjualan coklat, bermimpi keuntungan berlipat dalam sekejap.

Kembali ke kursi. Kenalkan, office chair termahal di dunia bernama Aresline Xten. Harganya 1,5 milyar dolar saja. Desainernya? Pininfarina, kantor desain Italia yang terkenal mendesain mobil mewah seperti Ferrari dan Cadillac. Kebetulan, ya? Dan ini baru kursi....